Sabtu, 19 Disember 2020

Part 8 : Dua Rahsia Sulit Terbesar

Sejarah Bible




(Nota: Dalam perbincangan dibawah kadangkala Nabi Isa disebut 'Jesus' secara bergantian)

Bible atau Kitab Perjanjian Baru adalah suatu Kitab Greaco (Yunani), dialek Koine, yang dikarang dan ditulis di luar Palestin; jadi bukannya dalam bahasa Aramaik yang digunakan dan difahami di Palestin pada masa itu oleh Nabi Isa AS, para Hawariyyun dan awam.

Sebenarnya Perjanjian Baru bukan merupakan suatu Kitab, tapi hanya karangan-karangan, surat-surat kiriman dan catatan-catatan terpisah dalam bahasa Yunani dan Aramaik hingga menimbulkan beraneka tafsir yang bertentangan; terutamanya sekitar entiti Jesus,dan bukan ajarannya.

Contohnya, surat-surat dari Paulus ditulis antara tahun 50 M dan 54 M (semua tahun selepas ini adalah dalam Masehi) dari Korintus dan Epesus kepada orang-orang Tesalonika, orang-orang Korintus, orang-orang Galatia dan orang-orang Rom.

#Pada tahun 58 dari Rom kepada orang Pilipi dan Kolose.

#Pada tahun 65 surat kepada orang-orang Ibrani (katanya oleh Paulus).

#Pada tahun 75 disiarkan bentuk awal Injil karangan Markus.

#Pada tahun 79 disiarkan Injil Matius.

#Pada tahun 90 Synode di YAMNIA mengakui Kitab Suci Yahudi, iaitu Wasiat Yang Lama menurut tradisi (orang Yahudi Diaspora). Pada tahun 95 disiarkan Kitab Wahyu.

#Pada tahun 105 disiarkan Kitab Kisah Perbuatan Rasul-rasul karangan Lukas yang terdiri dari 2 jilid dan kemudian dijadikan satu karya.

Terdorong oleh Kitab Kisah Rasul-rasul tersebut, mungkin juga dimulai oleh Gereja Epesus, dihimpunlah pada tahun 110 surat-surat kiriman Paulus. Muqadimah penyusun ditulis atas nama Paulus, oleh kerananya kemudian disebut Surat kepada orang Epesus.

#Pada tahun 115 disiarkan Surat Yang Pertama dan Kedua kepada Timotius dan Titus atas nama Paulus, dan barangkali juga dalam tahun itu Surat yang Pertama dari Yohanes.

#Pada tahun 117 mungkin disiarkan Surat Yang Kedua dan Ketiga dari Yohanes.

#Pada tahun 135 disiarkan Injil karangan Yahya dan Surat dari Barnabas.

#Antara tahun 145 hingga 155 terdapat banyak tulisan suci yang tak diketahui atau diragukan pengarangnya dan yang kemudian disisihkan, disingkirkan (APOCRYPHA). Bahasa dari aneka tulisan-tulisan di atas adalah dalam bahasa Greaco dan/atau dalam bahasa Aramaik, hal yang menimbulkan perbedaan tafsir, faham dan keyakinan antara para Biskup Barat dan Timur.

Oleh kerana permusuhan yang timbul dan perbezaan keyakinan sebagaimana terurai di atas, terasa perlu benar oleh Emperor Constantine I demi ketenteraman untuk menyelenggarakan suatu persidangan, yaitu suatu Ecumenical Council (yang pertama kali) pada tahun 325 di Nicaea (kini Isnik di Istanbul). Kemudian banyak lagi council atau synode menyusul; yang "Ecumenical" jumlahnya hingga tahun 1869 ada 20 atau 21 kali.

Gereja Timur Ortodox Yunani mengakui 7 yang pertama (dari tahun 325 s/d 787), dan Gereja Roman Katolik mengakui 14 Ecclesiastical/Ecumenical Council dari yang pertama. Council Nicaea dihadiri oleh 220 Biskup dari Barat dan Timur. Yang dibicarakan hanyalah soal-soal mengenai lman, Kebaktian, dan sebagainya. Yang terpenting adalah soal Ke-Esaan Tuhan menurut faham Yahudi dan Syirk, yaitu kepercayaan Goyim (yakni bukan-Yahudi, maksudnya Hellenisme dan aneka mytology bangsa-bangsa Jahiliyah), dan kemudian antara Unitarian dan Trinitarian.

Paulus yang berbicara bahasa Yunani dan tidak faham Aramaik, mengakibatkan ia memberi bentuk baru pada ajaran Yesus yang mudah dan indah dengan memasukkan aneka unsur gnostik, hal-hal ajaib dan mistik dari agama dan kebudayaan Yunani Kuno (Hellenisme); seperti misalnya soteriology-faham pembebasan penebusan dosa. Sistesis inilah yang kemudian menjadi pertengkaran antara paderi-paderi di mana pelbagai gereja (Paulinisme) ke luar sebagai pemenang.

Menurut theolog A. Powell Davies dalam bukunya "The First Christian," terbitan "The New American Library" - A Mentor Book:

"Paul reshaped the faith of the early Messianic believers into a gospel of salvation for the Gentiles."

Paulus dibenci oleh Umat Yahudi sebagai pengkhianat bangsa, dituduh oleh orang-orang Rom sebagai pengkhianat Kekaisaran dan tidak dipercaya lagi, baik oleh para Hawariyyun maupun orang suci; tetapi ia merupakan seorang yang menentukan perkembangan ajaran Gereja-gereja.

Semula anggota Timur lebih banyak, kemudian anggota Barat lebih banyak pada pelbagi majlis atau Synode dan untuk beberapa waktu keputusan-keputusannya tidak diterima oleh kedua belah pihak.

Pada tahun 341 dalam suatu perjumpaan di Antioch (Antakia) Monotheisme diterima, dan kembali jadi agama rasmi sebagai tafsir yang benar dari Iman Nasrani. Pendapat ini dikuatkan oleh suatu majlis pada tahun 351 yang terjadi pada masa Paus St. Julius I (337 - 352).

Paus Honorius I 

Paus Honorius I (625 - 638) menolak fahaman Triniti. Pada tahun 680, setelah kematiannya, beliau di-anathema (yakni dilaknat) dalam suatu majlis di Konstantinopel. Photius, Biskup Sirmium, diturunkan kerana menolak Ketuhanan Jesus di Konstantinopel pada tahun 869. Ada Paus dan Kaisar yang menganut fahaman Keesaan Tuhan, tetapi ada juga yang menganut faham Triniti. Para Biskup yang menolak Triniti dianiaya, dipenjarakan, dibuang, dibunuh dan lain sebagainya; perpustakaannya, aneka manuskripnya habis dibakar, lebih-lebih lagi yang berbahasa Aramaik. Hal ini sama dengan buku-buku ilmu lain yang berbahasa atau berhuruf Arab yang dijadikan abu ketika orang-orang Spanyol menang atas kaum Muslimin di semenanjung Iberia pada abad ke-XIV dan ke-XV. Asli dari pada Septuaginta, Kitab Ezra, Talmud, dan bergerobak-gerobak kodex yang berisi Monotheisme habis dibakar. Begitu pula jika penganut Unitarian menang, dimusnahkan segala yang menyebut Trinitaran. Sedikit yang ada kini adalah sisa-sisa dari salinan-salinan itu.

Antara yang terlepas dan selamat adalah Injil karangan Barnabas, seorang Hawariyyun yang monotheist dan yang menyatakan kedatangan Nabi Muhammad S.A.W.; Injil ini pada tahun 383 oleh Paus St. Damasus I (366 - 384) disimpan di perpustakaan peribadinya.

Toland berkata dalam bukunya "Miscellaneous Works" yang diterbitkan pada tahun 1747, Juz I halaman 380, bahawa Injil Barnabas masih ada. Dalam Bab XV disebut bahawa Glasian (Gladian) Decree tahun 496 memasuki "Evangelium Barnabe" ke dalam daftar buku-buku yang terlarang dibaca. Sebelum itu, Paus Innocent telah mengharamkannya pada tahun 465; juga keputusan Gereja-gereja Barat pada tahun 382. Tidak disebut pula adakah Injil Barnabas yang asli itu tertulis dalam bahasa Aramaik atau Yunani

Tiada ulasan:

Catat Ulasan